Kamis, 17 Maret 2011

PUASA PRAPASKAH DAN ABU

PUASA PRAPASKAH DAN ABU
Karena masa puasa atau pra paskah harus 40 hari (tdk termasuk hariminggu), kalau dihitung mundur dari hari Raya Paskah, pasti jatuhnyaRabu.
Cuplikan tambahan: Penggunaan abu dalam liturgi berasal dari jaman Perjanjian Lama. Abu melambangkan perkabungan, ketidakabadian, dan sesal / tobat. Sebagai contoh, dalam Buku Ester, Mordekhai mengenakan kain kabung dan abu ketika ia mendengar perintah Raja Ahasyweros (485-464 SM) dari Persia untuk membunuh semua orang Yahudi dalam kerajaan Persia (Est 4:1).

Ayub (yang kisahnya ditulis antara abad ketujuh dan abad kelima SM)menyatakan sesalnya dengan duduk dalam debu dan abu (Ayb 42:6). Dalam nubuatnya tentang penawanan Yerusalem ke Babel, Daniel (sekitar 550 SM) menulis, "Lalu aku mengarahkan mukaku kepada Tuhan Allah untuk berdoa dan bermohon, sambil berpuasa dan mengenakan kain kabung serta abu." (Dan 9:3). Dalam abad kelima SM, sesudah Yunus menyerukan agar orang berbalik kepada Tuhan dan bertobat, kota Niniwe memaklumkan puasa dan mengenakan kain kabung, dan raja menyelubungi diri dengan kain kabung lalu duduk di atas abu (Yun 3:5-6). Contoh-contoh dari Perjanjian Lama di atas merupakan bukti atas praktek penggunaan abu dan pengertian umum akan makna yang dilambangkannya.
Yesus Sendiri juga menyinggung soal penggunaan abu: kepada kota-kota
yang menolak untuk bertobat dari dosa-dosa mereka meskipun merekatelah menyaksikan mukjizat-mukjizat dan mendengar kabar gembira,Kristus berkata, "Seandainya mukjizat-mukjizat yang telah terjadi ditengah-tengahmu terjadi di Tirus dan Sidon, maka sudah lama orang-orang di situ bertobat dengan memakai pakaian kabung dan abu." (Mat 11:21)**
Gereja Perdana mewariskan penggunaan abu untuk alasan simbolik yang
sama. Dalam bukunya"De Poenitentia", Tertulianus (sekitar 160-220)menulis bahwa pendosa yang bertobat haruslah "hidup tanpa bersenang-senang dengan mengenakan kain kabung dan abu."Eusebius (260-340), sejarahwan Gereja perdana yang terkenal, menceritakan dalam bukunya "Sejarah Gereja" bagaimana seorang murtad bernama Natalis datang kepada Paus Zephyrinus dengan mengenakan kain kabung dan abu untuk memohon pengampunan. Juga, dalam masa yang sama, bagi mereka yang diwajibkan untuk menyatakan tobat di hadapan umum, imam akanmengenakan abu ke kepala mereka setelah pengakuan.
Dalam abad pertengahan (setidak-tidaknya abad kedelapan), mereka yangmenghadapi ajal dibaringkan di tanah di atas kain kabung dan diperciki abu. Imam akan memberkati orang yang menjelang ajal tersebut dengan air suci, sambil mengatakan "Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu." Setelah memercikkan air suci, imam bertanya, "Puaskah engkau dengan kain kabung dan abu sebagai pernyataan tobatmu di hadapan Tuhan pada hari penghakiman?" Yang mana akan dijawab orangtersebut dengan, "Saya puas."Dalam contoh-contoh di atas, tampak jelasmakna abu sebagai lambang perkabungan, ketidakabadian dan tobat.
Akhirnya, abu dipergunakan untuk menandai permulaan Masa Prapaskah,yaitu masa persiapan selama 40 hari (tidak termasuk hari Minggu)menyambut Paskah. Ritual perayaan "Rabu Abu" ditemukan dalam edisiawal Gregorian Sacramentary yang diterbitkan sekitar abad kedelapan.
Sekitar tahun 1000, seorang imam Anglo-Saxon bernama Aelfricmenyampaikan khotbahnya, "Kita membaca dalam kitab-kitab, baik dalamPerjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahwa mereka yang menyesali
dosa-dosanya menaburi diri dengan abu serta membalut tubuh mereka
dengan kain kabung. Sekarang, marilah kita melakukannya sedikit padaawal Masa Prapaskah kita, kita menaburkan abu di kepala kita sebagaitanda bahwa kita wajib menyesali dosa-dosa kita terutama selama MasaPrapaskah." Setidak-tidaknya sejak abad pertengahan, Gereja telahmempergunakan abu untuk menandai permulaan masa tobat Prapaskah, kita ingat akan ketidakabadian kita dan menyesali dosa-dosa kita. Dalam liturgi kita sekarang, dalam perayaan Rabu Abu, kita mempergunakan abu yang berasal dari daun-daun palma yang telah diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telah dibakar. Imam memberkati abu dan mengenakannya pada dahi umat beriman dengan membuat tanda salib dan berkata, "Ingat, engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu," atau "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil." Sementara kita memasuki Masa Prapaskah yang kudus ini guna menyambut Paskah, patutlah kita ingat akan makna abu yang telah kita terima: kita menyesali dosa dan melakukan silih bagi dosa-dosa kita. Kita mengarahkan hati kepada Kristus, yang sengsara, wafat dan bangkit demi keselamatan kita. Kita memperbaharui janji-janji yang kita ucapkan dalam pembaptisan, yaitu ketika kita mati atas hidup kita yang lama dan bangkit kembali dalam hidup yang baru bersama Kristus.
Dan yang terakhir, kita menyadari bahwa kerajaan dunia ini segera berlalu, kita berjuang untuk hidup dalam kerajaan Allah sekarang ini serta merindukan kepenuhannya di surga kelak. Pada intinya, kita mati bagi diri kita sendiri, dan bangkit kembali dalam hidup yang baru dalam Kristus.Dalam abad pertengahan (setidak-tidaknya abad kedelapan), mereka yangmenghadapi ajal dibaringkan di tanah di atas kain kabung dan diperciki abu. Imam akan memberkati orang yang menjelang ajal tersebut dengan air suci, sambil mengatakan "Ingat engkau berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu." Setelah memercikkan air suci, imam bertanya, "Puaskah engkau dengan kain kabung dan abu sebagai pernyataan tobatmu di hadapan Tuhan pada hari penghakiman?" Yang mana akan dijawab orangtersebut dengan, "Saya puas."Dalam contoh-contoh di atas, tampak jelasmakna abu sebagai lambang perkabungan, ketidakabadian dan tobat.Akhirnya, abu dipergunakan untuk menandai permulaan Masa Prapaskah,yaitu masa persiapan selama 40 hari (tidak termasuk hari Minggu)menyambut Paskah. Ritual perayaan "Rabu Abu" ditemukan dalam edisiawal Gregorian Sacramentary yang diterbitkan sekitar abad kedelapan.
Sekitar tahun 1000, seorang imam Anglo-Saxon bernama Aelfricmenyampaikan khotbahnya, "Kita membaca dalam kitab-kitab, baik dalamPerjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, bahwa mereka yang menyesalidosa-dosanya menaburi diri dengan abu serta membalut tubuh merekadengan kain kabung. Sekarang, marilah kita melakukannya sedikit padaawal Masa Prapaskah kita, kita menaburkan abu di kepala kita sebagaitanda bahwa kita wajib menyesali dosa-dosa kita terutama selama MasaPrapaskah." Setidak-tidaknya sejak abad pertengahan, Gereja telahmempergunakan abu untuk menandai permulaan masa tobat Prapaskah, kita ingat akan ketidakabadian kita dan menyesali dosa-dosa kita. Dalam liturgi kita sekarang, dalam perayaan Rabu Abu, kita
mempergunakan abu yang berasal dari daun-daun palma yang telah
diberkati pada perayaan Minggu Palma tahun sebelumnya yang telahdibakar. Imam memberkati abu dan mengenakannya pada dahi umat beriman
dengan membuat tanda salib dan berkata, "Ingat, engkau berasal dari
 debu dan akan kembali menjadi debu," atau "Bertobatlah dan percayalah kepada Injil." Sementara kita memasuki Masa Prapaskah yang kudus ini
guna menyambut Paskah, patutlah kita ingat akan makna abu yang telah
kita terima: kita menyesali dosa dan melakukan silih bagi dosa-dosa kita. Kita mengarahkan hati kepada Kristus, yang sengsara, wafat dan
bangkit demi keselamatan kita. Kita memperbaharui janji-janji yang
 kita ucapkan dalam pembaptisan, yaitu ketika kita mati atas hidup kita yang lama dan bangkit kembali dalam hidup yang baru bersama Kristus.
Dan yang terakhir, kita menyadari bahwa kerajaan dunia ini segera
 berlalu, kita berjuang untuk hidup dalam kerajaan Allah sekarang ini serta merindukan kepenuhannya di surga kelak. Pada intinya, kita mati bagi diri kita sendiri, dan bangkit kembali dalam hidup yang baru dalam Kristus.
Disusun oleh : Justinus Darmono NIK 510298 Paroki Santa Odilia Bandung. 

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More